blogjogja.my.id – Jakarta – Kelahiran bayi dapat memicu berbagai emosi kuat, mulai dari kebahagiaan hingga kecemasan. Sebagian besar ibu baru mengalami “baby blues” setelahnya pasca melahirkan, yang digunakan mencakup pembaharuan suasana hati, menangis, kecemasan, juga kesulitan tidur. 

Baby blues biasanya muncul di 2-3 hari pertama serta berlangsung hingga dua minggu. Namun, ada juga depresi pascapersalinan yang lebih besar serius dan juga berkelanjutan, dikenal sebagai depresi pascapersalinan atau depresi peripartum.

Dikutip dari Cleveland Clinic, depresi pascapersalinan (PPD) terjadi setelahnya melahirkan lalu tiada belaka memengaruhi ibu, tapi juga pengganti lalu orang tua angkat. Perubahan hormonal, fisik, emosional, keuangan, lalu sosial setelahnya memiliki bayi dapat menyebabkan gejala depresi. 

Depresi pascapersalinan adalah hal yang umum. Sebanyak 75 persen orang mengalami baby blues pasca melahirkan. Hingga 15 persen dari orang-orang ini akan mengalami depresi pascapersalinan. Sementara itu, satu dari 1.000 orang mengalami psikosis pascapersalinan.

Tak belaka ibu, depresi pascapersalinan juga dapat memengaruhi bayi. Penelitian menunjukkan bahwa depresi pascapersalinan dapat memengaruhi bayi dengan cara berikut:

– Ibu mengalami kesulitan menjalin ikatan dengan bayi
– Anak dapat memiliki permasalahan perilaku atau belajar
– Anak dapat miliki kesulitan makan kemudian tidur
– Anak Anda mungkin saja berisiko lebih lanjut tinggi mengalami obesitas atau gangguan perkembangan.
– Ibu akan mengabaikan perawatan anak atau tiada mengenali ketika merekan sakit.
– Anak dapat mempunyai gangguan keterampilan sosial.

Dilansir dari Healthline, gejala depresi pascapersalinan mampu parah serta mengganggu kemampuan untuk berfungsi. Simptom ini juga dapat bervariasi dari orang ke orang dan juga bahkan dari hari ke hari. Berikut beberapa gejala depresi pascapersalinan:

– Merasa sedih atau berbagai menangis
– Merasa kewalahan
– Memiliki pikiran untuk menyakiti bayi atau diri sendiri
– Tidak tertarik pada bayi
– Tidak memiliki energi atau motivasi
– Merasa bukan berharga, bersalah, atau seperti Anda adalah orang tua yang tersebut buruk
– Tidur terlalu berbagai atau terlalu sedikit
– Perubahan pada hubungan dengan makanan
– Merasa cemas
– Mengalami sakit kepala kronis, nyeri, atau kesulitan perut

Pilihan editor: 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *